Rudy Sumardi

Hasil Racikan Daun Sirih Rudy Sumardi Bisa Cegah Corona

Di tengah pandemi virus corona (Covid-19) yang saat ini melanda Indonesia, seorang anak bangsa bernama Rudy Sumardi, menemukan teknologi Recovery Sistem Imun Korona alias RESIK.

15 August 2020 4 menit baca
Hasil Racikan Daun Sirih Rudy Sumardi Bisa Cegah Corona

Di tengah pandemi virus corona (Covid-19) yang saat ini melanda Indonesia, seorang anak bangsa bernama Rudy Sumardi, menemukan teknologi Recovery Sistem Imun Korona alias RESIK.

RESIK sendiri nampak seperti bilik untuk mensterilkan tubuh dari virus, namun cairan yang digunakan bukanlah disinfektan, melainkan 100 persen berbahan herbal, yakni dengan kandungan dun sirih serta di dalam bilik tersebut juga dilengkapi dengan sinar ultra violet serta teknologi nano ozone, bahkan terangka dengan bahan stainless steel.


Rudy mengatakan khasiat daun sirih sudah banyak terbukti untuk ampuh untuk membunuh bakteri atau kuman, termasuk peran dari ultra violet dan juga nano ozone yang turut mendukung khasiat daun sirih.


"Ketiga unsur tersebut itu semua sudah mampu membunuh bakteri dan kuman secara instan, termasuk membersihkan dari corona," ungkap Rudy, Rabu (29/4/2020).

Rudy mengatakan, penciptaan teknologi RESIK ini sekaligus bentuk keprihatinannya dengan banyaknya masyarakat mensterilkan tubuh dari virus corona di bilik dengan cairan disinfektan, yang efeknya tidak aman bagi tubuh.

"Kebanyakan orang mencegah itu hanya menggunakan kimia, disemprot bagi desinfektan, kalau untuk benda mati boleh, kalau makhluk hidup tidak dianjurkan. Akhirnya saya membuat ini," ujar Rudy.

Sayangnya Rudy mengaku mendapatkan respon yang tidak baik dari hasil penemuannya itu, Ia mengatakan teknologi RESIK nya itu ditolak oleh Kementerian Pertahanan dan juga pihak Istana.


Beberapa waktu lalu, Rudy sempat bertemu dengan perwakilan pihak Kementerian Pertahanan dan Istana mempresentasikan temuannya dan sempat diminta agar temuannya itu didatangkan dan bisa dilihat secara langsung, sayangnya harapannya itu pupus.


"Begitu saya siap hari senin saya mau bawa barang ini, jawab mereka bilang Mas pimpinan kami belum menyetuji alat ini untuk dipakai, sedih memang mau ngomong apalagi itu kenyataannya," ujarnya.


"Mereka tersugesti dengan cairan disinfektan, sehingga informasinya pimpinan tidak menyetujui alat ini, jadi mereka belum tahu persis (teknologi RESIK), sehingga menyamaratakan dan sungguh terlalu jika alat ini disamaratakan dengan disinfektan," sambung Rudy.

Padahal kata Rudy, sudah jelas dalam alat yang diciptakannya tersebut tidak ada sama sekali partikel yang mengandung kimia, di mana keseluruhannya adalah bahan alami.


"Nol persen pun tidak ada kimia, yang ada air daun sirih, jadi saya sempat kecewa ketika pihak istana seperti itu," ujarnya.


Padahal alat tersebut dibuat dengan merelakan menggunakan tabungan sekolah sang anak, bahkan Ia juga menegaskan tidak pernah terlibat dengan pihak swasta.


Ia pun menekankan teknologi ini pun menggunakan bahan stainless, bukan baja ringan atau besi biasa yang digunakan pada umumnya dalam bilik disinfektan.


"Coba deh flash back kembali, semua peralatan kedokteran semua harus menggunakan stainless steel, itu basicnya saja bahwa stainless itu identik dengan steril, justru dalam box itu harus steril dan yang mensterilkan adalah stainless, kalau logam lain tidak bisa apalagi kayu," tuturnya.

Ia pun menyayangkan pemerintah tidak mengapresiasi buatan teknologi RESIKnya tersebut, padahal dengan alat sejenis itu kata Rudy di negara lain dipatok seharga 1,2 miliar rupiah.


"Teknologinya jauh dengan temuan saya, dan temuan saya hanya menghabiskan uang kurang lebih 70 juta rupiah, dan sudah dipakai alatnya, dan alatnya sendiri gak memalukan jika dipakai di Istana, dibandingkan mereka menggunakan terpal dan kotaknya dengan kayu, kan malu pejabat masuk pakai begitu, manual lagi," sambungnya.

Ia pun menilai, pemerintah terlampau latah ketika dalam kondisi saat ini lebih memilih impor dengan alat penanganan corona yang harganya tidak murah, sementara alatnya dibuat dengan harga terjangkau namun dinilainya lebih baik.

"Saya sedih ya, tapi mau ngomong apalagi, ini uang tabungan untuk sekolah anak saya, saya korbankan, dan bahan bakunya enggak asal," sambungnya.

Rudy mengaku telah menyukai dunia inovasi sejak usia 14 tahun, Ia pun mengaku atas inovasinya tersebut sempat mendapatkan penawaran dari negara sahabat seperti Timor Leste, Singapura dan Malaysia.


"Timor Leste akan memfasilitasi saya, dengan catatan saya harus pindah kewarganegaraan, tawaran ini sekitar dua tahun yang lalu, dan juga Malaysia juga, Singapura juga pernah, tapi saya demi bangsa dan negara ini tawaran itu saya biarin saja," tandasnya.

Bagikan Artikel

Artikel Terkait